Bagian 2
Sesampainya di rumah aku menemukan rumah yang sudah berantakan. Aku langsung teringat nenekku yang tadi pagi sedang istirahat. Seketika itu aku menangis sesenggukan, derai air matapun tak henti-hentinya kusapu dari pipiku. Mulutku selalu memanggil nenek satu-satunya keluargaku. Ya Tuhan dimanakah nenekku? Nenek, semoga engkau selalu dilindungiNya.
Akupun bagaikan nelayan yang kehilangan arah sehingga tidak tahu kemana tujuan hidup. Sepertinya hidup ini menjadi tidak berarti.Aku merasa ada penyesalan, tidak dapat menjaga nenekku dengan baik.
Hari berganti hari, akupun menyusuri hutan dan mencari tempat tinggal yang baru. Ku temukan sebuah gua kecil. Aku sangat bersyukur sekali, akhirnya aku tidak lagi tidur beratapkan langit dan beralaskan tanah, walau jika kupandang langit itu begitu indah dan selalu membuatku takjub atas keagungan Tuhan.
Senin, 17 September 2012
Kamis, 19 April 2012
Raksasa Hutan Rimba
Raksasa Hutan Rimba
Namaku Raka. Kami hidup di pinggir sungai seberang hutan. Aku tidak pernah sekolah, usiaku sebaya dengan anak kelas 4 SD. Maklum kami hidup di hutan yang teramat jauh dari dunia modern. Ibuku telah meninggalkanku pada saat melahirkanku. Ayahku juga telah meninggal sejak aku berumur satu tahun. Menyedihkan memang, apalagi jika aku melihat teman-temanku bermanja dengan orang tua mereka. Aku hanya mendapatkan kasih sayang dari seorang nenek yang kini semakin renta. Karena itulah aku harus membantu nenek untuk bertahan hidup di hutan dengan kondisi kami seadanya.
Dinding rumahku terbuat dari bambu, beratap jerami dan beralaskan tanah. Karena selama ini tidak ada seorangpun lelaki dewasa di rumahku maka kondisinya tidak terawat. Sedangkan aku belum bisa memperbaiki rumah yang sekarang aku tempati bersama nenekku, peninggalan kakekku yang rusak. Maklum saja aku kan masih kecil. Kami tidur di dipan yang terbuat dari bambu dan beralaskan tikar daun pandan.
Saat itu malam sangat gelap, tidak ada satu bintangpun yang mengedipkan sinarnya. Angin semakin kencang. Benar saja, malam itu turun hujan yang sangat deras yang disertai angin tidak seperti biasanya. Bunyi petir menggelegar diiringi dengan cahaya kilat yang sangat mengerikan. Aku hanya bisa berdoa bersama nenekku memohon agar hujan ini segera reda. Air sungaipun sudah meluap masuk ke dalam rumah setinggi mata kaki. Kamipun tidak bisa tidur karena atap rumah kami sudah mulai bocor karena dihempas angin yang sangat kencang. Kami mengambil meja dan diletakkan diatas dipan agar kami bisa terlindung air hujan yang merembes melalui atap jerami yang terhempas angin. Kami hanya bisa duduk di bawah meja. Mungkin karena kelelahan aku teridur di pangkuan nenek. Sepertinya nenek tidak tidur semalaman karena selalu saja berdoa kepada Tuhan agar kami terhindar dari mara bahaya yang ditimbulkan dari hujan ini.
Terdengar suara ayam jantan berkokok, akupun terperanjat bangun dari tidurku. Kulihat nenek sedang membereskan lantai rumah yang becek. Akupun bersyukur hujan sudah reda. Aku tidak tega melihat nenek, walaupun sudah lanjut usia tetapi semangatnya sangat besar. Sejak saat itu akupun sangat ingin cepat tumbuh menjadi lelaki dewasa sehingga bisa membantu nenek. Tapi tidaklah mungkin aku tumbuh instan, pasti semuanya membutuhkan proses dan waktu yang cukup lama. Walaupun tubuhku masih kecil tetapi aku bertekad akan menjadi lelaki yang berguna, terutama untuk nenek tersayang.
Aku segera menghentikan pekerjaan yang sedang nenek lakukan. Aku segera membereskan dipan tempat tidur kami dan mempersilakan nenek istirahat, karena semalaman nenek tidak tidur, selalu berdoa memohon keselamatan kami. Akupun pergi ke hutan untuk mencari daun alang-alang sebagai pengganti atap jerami rumahku yang terhempas angin. Gerobag yang aku bawa sudah penuh dengan daun alang-alang. Hari sudah mulai sore. Aku teringat nenek yang mungkin belum makan siang ini karena kayu bakarnya basah terkena air hujan semalam. Akupun harus mendapatkan buah-buahan untuk mengisi perut kami agar tidak kelaparan. Sembari pulang aku memetik buah disekitarku, buah apa saja yang penting dapat menahan rasa lapar kami. Kini buah-buahan sudah menambah penuh gerobak yang ku bawa, paling tidak cukup untuk tiga hari kedepan. Bersambung......
Aku segera menghentikan pekerjaan yang sedang nenek lakukan. Aku segera membereskan dipan tempat tidur kami dan mempersilakan nenek istirahat, karena semalaman nenek tidak tidur, selalu berdoa memohon keselamatan kami. Akupun pergi ke hutan untuk mencari daun alang-alang sebagai pengganti atap jerami rumahku yang terhempas angin. Gerobag yang aku bawa sudah penuh dengan daun alang-alang. Hari sudah mulai sore. Aku teringat nenek yang mungkin belum makan siang ini karena kayu bakarnya basah terkena air hujan semalam. Akupun harus mendapatkan buah-buahan untuk mengisi perut kami agar tidak kelaparan. Sembari pulang aku memetik buah disekitarku, buah apa saja yang penting dapat menahan rasa lapar kami. Kini buah-buahan sudah menambah penuh gerobak yang ku bawa, paling tidak cukup untuk tiga hari kedepan. Bersambung......
Langganan:
Postingan (Atom)
